Candi Cangkuang: Cagar Budaya di Tengah Keindahan Danau

oleh -
Foto: Wikipedia.

GARUTMU.COM, Garut — Candi Cangkuang adalah sebuah candi Hindu yang terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Candi ini merupakan candi Hindu pertama dan satu-satunya di Tatar Sunda. Lokasinya bersebelahan dengan makam Embah Dalem Arief Muhammad, seorang tokoh agama Islam yang dihormati sebagai leluhur Desa Cangkuang.

Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Kabupaten Garut, yaitu Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur. Nama Candi Cangkuang diambil dari nama desa tersebut, yang merujuk pada tanaman sejenis pandan (Pandanus furcatus) yang banyak tumbuh di sekitar makam Embah Dalem Arief Muhammad.

Daun cangkuang sering dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar, atau pembungkus. Cagar budaya Cangkuang terletak di sebuah daratan di tengah danau kecil (situ), sehingga pengunjung harus menyeberang dengan rakit untuk mencapainya.

Kampung Pulo, yang dulunya dikelilingi seluruhnya oleh danau, kini hanya bagian utaranya yang masih berupa danau, sementara bagian selatannya telah berubah menjadi lahan persawahan. Selain candi, terdapat juga pemukiman adat Kampung Pulo yang menjadi bagian dari kawasan cagar budaya ini.

BACA:  Delman, Transportasi Tradisional yang Eksis Hingga Kini

Candi Cangkuang berdiri di sebuah pulau kecil yang memanjang dari barat ke timur dengan luas 16,5 hektar, terletak di tengah danau Cangkuang pada koordinat 106°54’36,79″ Bujur Timur dan 7°06’09” Lintang Selatan. Selain pulau ini, di danau tersebut terdapat dua pulau lain yang lebih kecil.

Danau Cangkuang berada di lembah subur pada ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut, dikelilingi oleh pegunungan: Gunung Haruman di timur-utara, Pasir Kadaleman di timur-selatan, Pasir Gadung di selatan, Gunung Guntur di barat-selatan, Gunung Malang di barat, Gunung Mandalawangi di barat-utara, serta Gunung Kaledong di utara.

Candi ini ditemukan pertama kali pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita, berdasarkan laporan Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genootschap terbitan tahun 1893 yang menyebutkan adanya arca rusak dan makam kuno di bukit Kampung Pulo, Leles.

BACA:  Kolom: Sensasi Moralitas "Sambal Goang"

Makam dan arca Siwa yang dimaksud memang ditemukan. Pada awal penelitian, terlihat batu yang merupakan reruntuhan candi. Makam kuno tersebut adalah makam Arief Muhammad, yang dianggap sebagai leluhur penduduk setempat. Selain reruntuhan candi, ditemukan pula serpihan pisau dan batu-batu besar yang diduga peninggalan zaman megalitikum. Penelitian lanjutan pada tahun 1967 dan 1968 berhasil menggali bangunan makam.

Meskipun candi ini hampir pasti peninggalan agama Hindu dari abad ke-8 Masehi, yang mengherankan adalah adanya pemakaman Islam di sampingnya. Pada awal penelitian, ditemukan batu reruntuhan candi dan makam kuno, serta arca Siwa di tengah reruntuhan. Dengan ditemukannya batu andesit berbentuk balok, tim peneliti yakin bahwa di sekitar lokasi tersebut pernah berdiri sebuah candi. Penduduk setempat sering menggunakan balok-balok tersebut sebagai batu nisan.

Berdasarkan keyakinan tersebut, penelitian dilakukan di sekitar kuburan Arief Muhammad dan ditemukan fondasi candi berukuran 4,5 x 4,5 meter serta batu-batu candi lainnya yang berserakan. Tim Sejarah dan Lembaga Kepurbakalaan terus melakukan penelitian hingga tahun 1968.

BACA:  Gebyar Metaverse PTI ala HIMADIKTI Institut Pendidikan Indonesia Garut

Pemugaran Candi Cangkuang dimulai pada tahun 1974-1975 dan rekonstruksinya dilaksanakan pada tahun 1976, mencakup kerangka badan, atap, dan patung Siwa, serta pembangunan joglo museum untuk menyimpan dan menginventarisir benda-benda bersejarah dari seluruh Kabupaten Garut.

Saat pemugaran pada tahun 1974, ditemukan batu candi yang merupakan bagian dari kaki candi. Namun, hanya sekitar 40% dari batu asli yang ditemukan, sehingga sisanya dibuat dari campuran semen, batu koral, pasir, dan besi.

Candi Cangkuang merupakan candi pertama yang dipugar untuk mengisi kekosongan sejarah antara Purnawarman dan Pajajaran. Para ahli menduga candi ini didirikan pada abad ke-8 berdasarkan tingkat kelapukan batuan dan kesederhanaan bentuknya (tidak adanya relief).***

___

Sumber: Wikipedia

Editor: FA

ET